13 LSM Bongkar “Dosa” RSUDAM

Selasa, 06 September 2016
Ketua Umum Aliansi Mahasiswa Peduli Lampung Fadli Koms (salah satu anggota Aliansi Keramat), berorasi di depan kantor Pemerintah Provinsi Lampung, Selasa (6/9). Foto: Septa.

Lampung Centre – Sebanyak 13 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang tergabung dalam Alinasi Komunitas Rakyat Berani Mati (Keramat) membeberkan beberapa program pengadaan milik Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek (RSUDAM) Provinsi Lampung melalui aksi demo di Komplek Perkantoran Pemerintah Provinsi Lampung dan Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung, Selasa (6/9).

Program di RSUDAM yang dikritisi ialah pengadaan makan minum pasien dan pegawai serta biaya kebersihan dari tahun 2013 dan 2015. Anggaran untuk dua kegiatan tersebut dinilai sangat berlebihan sehingga berpotensi mengakibatkan kerugian negara. Pada tahun 2013, RSUDAM mengganggaran dana makan minum untuk pasien dan pegawai RSUDAM sebesar Rp7 miliar dari dana BLUD yang dikerjakan CV. Jalur Sutra Mandiri dengan penawaran Rp6.994.599.850. Sementara di 2015, RSUDAM mengganggarakan kegiatan serupa dengan pagu Rp6,5 miliar yang dimenangkan CV. Gadila Pertama dengan penawaran Rp6.493.220.000.

Aliansi Keramat menilai, pada kedua pengadaan ini telah terjadi pengkondisian lantaran pagu dan harga penawaran hanya terjadi selisih Rp5.400.150 dan Rp6.780.000. Selain itu diduga juga terjadi kebocoran anggaran yang mengakibatkan kerugian negara lantaran pada kenyataannya menu yang disajikan pihak penyedia khususnya kepada pasien di RSUDAM tidak sesuai dengan besaran dana yang dikucurkan.

Selain dana Rp6.5 miliar, pada tahun 2015 RSUDAM kembali menganggarkan dana makan dan minum pasien dan pegawai periode Januari dan Februari 2015 masing-masing sebanyak empat, dengan rincian satu paket senilai Rp162,5 juta atau dengan total keseluruhan Rp1.29 miliar.

Koordinator Aliansi Keramat Sudirman Dewa menduga, di tahun 2015 telah terjadi tumpang-tindih anggaran antara dana makan minum pasien dan pegawai Rp6.5 miliar dengan anggaran untuk kegiatan serupa periode Januari-Februari sebesar Rp1.29 miliar yang dipecah masing-masing menjadi empat paket. Ketua Umum Forum Reformasi Lampung (Forel) ini menyebut kedua kegiatan ini relatif sama sehingga kegiatan ini patut diaudit dan diperiksa mulai dari proses penganggaran hingga realisasinya.

“Sebab tidak menutup kemungkinan salah satu dari kegiatan tersebut merupakan kegiatan fiktif yang sengaja dialokasikan untuk kepentingan tertentu. Selain itu kami juga menduga pemecahan tersebut sengaja dilakukan pihak RSUDAM untuk menghindari lelang,” terang Sudirman.

Selain pengadaan makan minum pasien dan pegawai, aliansi Keramat juga mengkritisi biaya kebersihan milik RSUDAM tahun 2013 hingga 2015 yang nilainya terbilang sangat fantastis. Pada 2013, RSUDAM mengganggarkan biaya kebersihan umum (indoor dan outdoor) sebesar Rp2,2 miliar lebih, pada 2014 sebesar Rp2.6 miliar lebih, dan 2015 sebesar Rp2.5 miliar lebih dan ditambah dana kebersihan periode Januari-Februari 2015 sebesar Rp.400 juta.

Sementara itu, sampai berita ini diturunkan belum ada satupun pihak RSUDAM memberikan penjelasan terkait beberapa temuan yang dibeberkan 13 LSM tersebut. Bahkan upaya konfirmasi awak media melalui sambungan telepon kepada Direktur RSUDAM juga tidak tersambung. (Septa Herian Palga)

 

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar