Akademisi: Alasan PT DCK Ketika Disidak DPRD Tidak Masuk Akal

Kamis, 02 November 2017
Kondisi seperti retakan di sisi kanan flyover MBK. (Foto: Lampung Centre)

Lampung Centre – Pengamat konstrusi dari Universitas Lampung (Unila) melihat terdapat kejanggalan pada keretakan megaproyek jalan layang (flyover) Teuku Umar – Z.A.Pagar Alam yang menelan anggaran Rp49,8 miliar. Selain itu pernyataan PT Dewanto Cipta Karya (PT DCK) selaku perusahaan yang mengerjakan proyek juga juga danggap tidak masuk akal.

Pengamat Kontruksi Unila Sasana Putra melihat, memang ada seperti retakan pada sisi bagian kanan flyover. Hal tersebut diduga terjadi karena umur beton yang belum sesuai namun PT DCK sudah melakukan penimbunan dan pengerasan tanah yang mengakibatkan adanya penekanan kesamping.

“Kemungkinan retakan itu terjadi karena adanya daya tekan kesamping yang ketika proses perataan dan penimbunan tanah, sementara umur beton belum sesuai,” kata Sasana Putra ketika konfirmasi, Kamis (2/11).

Selain itu, lanjutnya, keretakan bagian beton juga kemungkinan terjadi karena pekerjaan yang tidak maksimal atau beton tidak dilakukan perawatan, namun bisa juga terjadi karena peralatan pihak perusahaan tidak sesuai dengan setandarisasi kontruksi beton.

“Bisa jadi juga karena peralatan beton tidak bagus, mungkin tidak dilakukan curing (perawatan beton) tidak dilakukan atau tidak bagus. Atau mungkin juga dari pelaksanaannya,” lanjutnya.

Terlihat seperti retakan pada badan flyover MBK sepanjang lima sampai sepuluh meter meski belum digunakan pengendara. (Foto: Lampung Centre)

Kondisi seperti retakan di sisi kanan flyover MBK.

Kondisi seperti retakan di sisi kanan flyover MBK.

Saat ini, pihak perusahaan berupaya menutupi retakan tersebut dengan menutup bagian luar menggunakan adukan semen. Namun menurut kepala UPTD laboratorium konstruksi Unila ini upaya yang dilakukan perusahaan tersebut tidak akan memberikan dampak terlalu besar, karena hanya menutupi bagian luar sehigga retakan tidak terlihat.

“Jika retakan dimasukan cairan semen (coating) itu tidak berbahaya, namun jika hanya bagian luar saja yang ditutup dengan semen, kemeungkinan retakan tersebut akan kembali terjadi. Jika hanya bagian dalam tidak tertutup jika beton itu akan kemasukan air retakan pada bagian dalam dapat menjadi jalur air, jika sudah demikian kedepannya akan mengakibatkan keretakan dimana-nama,” tegasnya.

Selain itu dirinya juga menyinggung bantahan dari PT DCK ketika flyover MBK disidak Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung yang beritakan media masa bila adanya seperti retakan itu terjadi karena adanya perubahan bentuk. Menurut Sasana Putra, alasan tersebut merupakan akal-akalan pihak perusahaan dan tidak masuk akal.

“Kalau karena perubahan disain ya nggk lah, kan kalau ada perubahan disain harus ada penyesuaian. Kalau ada perubahan disain tapi tidak ada penyesuaian kan lucu, malah jadi aneh,” tandasnya. (Septa Herian Palga)

 

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar