Akademisi Minta Crosscheck Perencanaan Jalan Pringsewu – Pardasuka

Kamis, 04 Oktober 2018
Gambar Ilustrasi. (Sumber: Ist)

Bandarlampung (Lampung Centre) – Pembangunan jalan rigid (beton) Pringsewu – Pardasuka dengan pagu Rp50 miliyar dari dana pinjaman PT SMI dan tertuang dalam APBD 2018 yang dikerjakan PT URM, harus sesuai dengan perencanaan. Jika tidak, maka patut dicurigai telah terjadi kecurangan yang mempengaruhi mutu serta kualitas jalan.

Dosen Tehnik Sipil Universitas Lampung (Unila) Sasana Putra menjelaskan, jenis jalan beton terdapat dua jenis ada yang menggunakan besi ada juga tidak. Sementara di Indonesia umumnya menggunakan jalan rigid (beton) menggunakan tulang besi dowel dan tie bar.

“Jalan beton itu bisa dibuat menerus atau tidak menerus, menggunakan besi atau tidak menggunakan besi itu tergantung perencanaannya. Maka harus crosscheck dulu dengan gambar rencananya,” kata Sasana Putra, Rabu (3/10).

Terlihat pekerja proyek pembangunan jalan rigid (beton) Pringsewu – Pardasuka sedang mengeluarkan besi dowel ketika proses pengecoran. (Foto: ist)

Dirinya menjelaskan, untuk jenis jalan beton tidak menerus ketentuannya harus menggunakan besi dowel sebagai pengikat sambungan. Selain sebagai pengikat besi dowel juga berfungsi sebagai penahan agar tidak terjadi retakan keberbagai arah.

Dirinya menjelaskan, dalam konstruksi jalan beton terdapat dua jenis besi yakni dowel dan tie bar. Tulangan dowel menggunakan besi polos dan diletakan dengan posisi sejajar, sementara tulangan tie bar menggunakan besi ulir diletakan dengan posisi melintang.

“Pada proses pelaksanaan di lokasi pekerjaan, masih banyak penggunaan jenis besi yang terbalik. Untuk tulangan dowel menggunakan besi ulir, sementara tulangan tie bar banyak yang menggunakan besi polos,” kata dia.

Diberitakan sebelumnya, berdasarkan hasil pantauan di lokasi pembangunan jalan Pringsewu – Pardasuka, PT URM selaku perusahaan yang mengerjakan pembangunan jalan tersebut diduga melakukan kecurangan dengan tidak menggunakan besi dowel yang berfungsi sebagai tulang rigid (beton).

Proses pembangunan jalan Pringsewu – Pardasuka. (Foto: ist)

Modus yang dilakuakan, sebelum cairan beton disiram ke atas lantai kerja, pihak perusahaan terlebih dahulu meletakan besi dowel dengan posisi tidak terikat untuk kemudian didokumentasikan. Setelah didokumentasi, kemudian para pekerja mengangkat kembali besi dan setelah itu barulah dilakukan pengecoran.

Menyikapi hal ini, Anggota DPRD Kabupaten Pringsewu Suryo Cahyo berpendapat, tindakan yang dilakukan pada pembangunan jalan belom Pringsewu-Pardasuka merupakan bagian dari tindakan pengurangan volume yang mengakibatkan minimnya kualitas hasil pekerjaan.

Dirinya juga mengaku, baru pertama kali melihat ada pengerjaan jalan digit yang tidak menggunakan besi sebagai tulang penyambung kontruksi beton.

“Kita memandang ini sangat miris, apalagi terlihat jelas ketika para pekerja sedang mengeluarkan besi pada proses pengecoran. Maka harus dibongkar kembali, karena tidak sesuai dengan harapan,” kata dia. (Septa Herian Palga)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar