Dipimpin Gubernur Ridho, Lampung Jadi Primadona Insvestor

Selasa, 05 Desember 2017
Gubernur M.Ridho Ficardo. Foto: Humas

Lampung Centre – Provinsi Lampung kini berada di 10 besar daerah tujuan penanaman modal dalam negeri (PMDN), tepatnya di posisi tujuh. Posisi itu merupakan yang tertinggi dalam satu dekade terakhir, mengingat posisi Lampung di percaturan investasi nasional selama ini tak beranjak dari level menengah 14-15 nasional.

Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Provinsi Lampung, pada Triwulan I 2017, posisi Lampung masih berada di urutan 13 nasional dengan nilai investasi Rp1,58 triliun. Pada Triwulan II, posisi Lampung melejit ke posisi tujuh dengan nilai investasi Rp1,8 triliun dan bertahan pada posisi tujuh pada Triwulan III dengan nilai investasi Rp3,08 triliun.

Posisi itu sekaligus menempatkan Lampung dalam jajaran tujuan investasi utama nasional bersama Jawa Timur di posisi pertama, disusul DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, dan Kalimantan Timur. Setelah Lampung, di posisi delapan Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Riau.

Naiknya arus investasi ke Lampung, menurut Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo tak lepas dari situasi kondusif, perbaikan infrastruktur, dan jaminan berinvestasi. “Pengusaha tentu memiliki alat ukur sendiri dalam memutuskan lokasi investasi. Namun pemerintah harus menciptakan kondisi agar menjadi daerah tujuan investasi. Saya mengucapkan terima kasih kepada aparat keamanan, pemerintah kabupaten/kota, dan masyarakat Lampung pada umumnya, atas situasi kondusif yang tercipta selama ini,” kata Gubernur Ridho, Senin (4/12).

Perbaikan infrastrukur jalan dan jembatan ke level mantap 77%, kata Gubernur, membuat arus barang dan jasa makin cepat. Para investor, kata Gubernur, juga mengantisipasi operasional Jalan Tol Trans Sumatera di Juni 2018 dan status internasional Bandara Radin Inten II yang bakal mendukung arus logistik keluar masuk Lampung. Faktor pendukung lainnya, surplus daya listrik dalam sistem interkoneksi Sumatera Bagian Selatan.

Jenis investasi yang masuk Lampung, menurut Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Lampung, Tonny Oloan Lumban Tobing, sesuai dengan target. “Kita menargetkan 40% investasi yang masuk itu dalam bentuk agroindustri, sehingga mampu mendukung pertanian Lampung dan margin yang dihasilkan dari perputaran investasi itu dapat mendukung makro ekonomi Lampung,” kata Tonny Tobing.

Provinsi Lampung, kata Tonny, memiliki 12 komoditas bahan baku agroindustri seperti lada, kopi, cokelat, jagung, kelapa sawit, singkong, dan beras. Saat ini, 60-70% industri di Lampung berbasis agroindustri. “Beberapa investasi yang masuk itu industri ubi kayu, tapioka, glukosa, pengeringan jagung, pakan ternak, industri mi, dan gula pasir. Ini tentu mendukung program hilirisasi hasil-hasil pertanian yang dicanangkan Pak Gubernur Ridho,” kata Tonny.

Selain membuka lapangan kerja, kata Tonny, peningkatan investasi ini bakal memodernisasi industri. Pasalnya, rata-rata industri di Lampung, kata dia, tertinggal dari sisi teknologi. “Investasi baru ini akan menjadikan industri kita lebih efisien sehingga mampu bersaing di pasar nasional dan globar,” kata Tonny.

Secara umum, arus investasi ke Lampung baik PMDN maupun Penanaman Modal Asing (PMA) naik drastis dari semula Rp5,3 triliun naik menjadi Rp7,9 triliun di 2017. Untuk PMA, Lampung berada di posisi 27 nasional pada Triwulan III dengan jumlah investasi 32,3 juta dolar AS dan 39 proyek. (rls/red)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar