Dinas Pariwisata Janji Evaluasi Festival Krakatau

Rabu, 30 Agustus 2017
Festival Kratakatau 2017. Foto: Ist

Lampung Centre  – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Lampung (Disparekraf) berjanji akan mengevaluasi apa saja yang jadi kekurangan Festival Krakatau (FK). Hal ini dampak dari menurunnya antusias peserta dalam menghadiri Festival Krakatau tahun 2017. “Dalam waktu dekat saya akan mengundang seluruh kadis pariwisata kabupaten/kota dan stakeholder terkait untuk evaluasi Lampung Krakatau Festival kemarin, untuk perbaikan kedepan,” ujar Kepala Disparekraf Provinsi Lampung, Budiharto, Senin (28/08/2017).

Terkait kinerja Event Organizer (EO) yang terbilang kurang optimal, Budiharto tidak bisa berkomentar banyak. Ia menyebut pemilihan EO bukanlah ranah Dinas Pariwisata. “EO kan bukan kami yang menunjuk, tapi dipilih melalui proses lelang yang dilakukan oleh Badan Layanan Pengadaan dan proses lelang juga secara terbuka,” imbuhnya.

Untuk itu, ia tak menutup peluang bagi EO lokal di Lampung yang ingin ikut berkompetisi pada LKF 2018 mendatang. Sebab, EO besar juga tidak menjamin sebuah acara berjalan dengan lancar. “Jadi silakan EO lokal ikut saja dalam proses lelang. Saya tidak mencampuri urusan lelang, semoga saja EO lokal bisa

unggul, justru keinginan saya kedepan EO atau organisasi bisa beradu program untuk FK, nanti dipilih oleh tim,” tambah Budi.

Ditanya terkait format acara apa yang akan disiapkan di FK tahun depan, Budi mengaku masih mencari format terbaik. “Kami lagi mencari format seperti apa pelaksanaan FK kedepan. Kami juga butuh masukan pemikiran, biar FK kedepan lebih baik lagi,” tutupnya.

Diektahui, FK 2017 ini terjadi masalah dalam pelaksanannya. Yang terburuk adalah kericuhan antara peserta Tour Krakatau dengan EO di Pulau Sebesi. Kericuhan ini dipicu pembatalan pendakian ke GAK oleh EO tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Hal lain yakni sepinya penonton yang menyaksikan FK di Lapangan Saburai, Bandar Lampung.

Pemerhati Budaya Lampung, M Yusuf Endriansyah Putra menilai FK 2017 masih monoton dan minim inovasi. FK juga disebut belum mengcover semua seni budaya khas Lampung. “Artinya, coba bikin  kegiatan yang lebih unik, kreatif tapi tetap original. Kalau hanya sekedar pawai keliling di daerah lain juga banyak,” ujarnya. (rls/nt)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar