Diprediksi Pertengahan Tahun Lampung Terkena Dampak El Nina

Selasa, 01 Maret 2016
Ilustrasi: El Nina

Lampung Centre – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Lampung memprediksi, Provinsi Lampung pada pertengahan tahun ini, atau sekitar Juni dan Juli akan terkena dampak fenomena alam La Nina .” Fenomena alam badai La Nina tersebut terjadi pasca fenomena El Nino yang saat ini masih berlangsung,” jelas Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Lampung Sugiono belum lama ini

BMKG sendiri memprediksi dampak La Nnina itu berpengaruh pada fase musim kemarau tahun ini tidak terlalu kering jika dibandingkan pada musim kemarau tahun lalu.

Hal itu karena akan terjadi peningkatan masa  udara, sehingga peluang curah hujan pada bulan Juni yang seharusnya memasuki musim kemarau, kemungkinan besar akan terjadi diwilayah Provinsi Lampung.

“Diperkirakan terjadi pada bulan Juni atau Juli mendatang, sehingga pada musim kemarau tahun ini tidakl terlalu kering jika dibandingkan kemarau tahun lalu,” ujarnya.

Disisi lain BMKG Lampung memprediksi pada bulan Maret hingga April mendatang, intensitas curah hujan di wilayah Provinsi Lampung akan mulai mengalami penurunan jika dibandingkan bulan Februari, meski penurunan tingkat curah hujan tersebut tidak terlalu signifikan.

Namun demikian menurutnya bukan berarti pada bulan Maret dan April masyarakat sudah terhindar dari potensi bencana banjir. Hal itu karena jika warga mengabaikan kebersihan lingkungan tempat tinggalnya, maka bencana banjir tetap akan terus menghantui masyarakat.

El Nino dan La Nina merupakan gejala yang menunjukkan perubahan iklim. El Nino adalah peristiwa memanasnya suhu air permukaan laut di pantai barat Peru – Ekuador (Amerika Selatan yang mengakibatkan gangguan iklim secara global). Biasanya suhu air permukaan laut di daerah tersebut dingin karena adanya up-welling (arus dari dasar laut menuju permukaan). Menurut bahasa setempat El Nino berarti bayi laki-laki karena munculnya di sekitar hari Natal (akhir Desember). Di Indonesia, angin monsun (muson) yang datang dari Asia dan membawa banyak uap air, sebagian besar juga berbelok menuju daerah tekanan rendah di pantai barat Peru – Ekuador. Akibatnya, angin yang menuju Indonesia hanya membawa sedikit uap air sehingga terjadilah musim kemarau yang panjang.

La Nina merupakan kebalikan dari El Nino. La Nina menurut bahasa penduduk lokal berarti bayi perempuan. Peristiwa itu dimulai ketika El Nino mulai melemah, dan air laut yang panas di pantai Peru – ekuador kembali bergerak ke arah barat, air laut di tempat itu suhunya kembali seperti semula (dingin), dan upwelling muncul kembali, atau kondisi cuaca menjadi normal kembali. Dengan kata lain, La Nina adalah kondisi cuaca yang normal kembali setelah terjadinya gejala El Nino.

Perjalanan air laut yang panas ke arah barat tersebut akhirnya akan sampai ke wilayah Indonesia. Akibatnya, wilayah Indonesia akan berubah menjadi daerah bertekanan rendah (minimum) dan semua angin di sekitar Pasifik Selatan dan Samudra Hindia akan bergerak menuju Indonesia. Angin tersebut banyak membawa uap air sehingga sering terjadi hujan lebat. (DbsRed)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar