Ekspor Kopi Anjok Pemkot Beraksi

Minggu, 10 April 2016
Walikota Bandar Lampung Herman HN foto bersama masyarakat pada acara Malam Seribu Cangkir Kopi di Tugu Adipura, Sabtu malam (9/4). Foto: Riki Erta

Lampung Centre – Menurunnya ekspor bubuk kopi Lampung yang terjadi pada bulan lalu nampaknya menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bandar Lampung. Agar hal tersebut tidak kembali terulang, pemkot berencana mengajak pihak swasta untuk meningkatkan promosi dan pemasaran kopi Lampung di pasar internasional.

Pernyataan tersebut diutarakan Walikota Bandar Lampung Herman HN di acara malam seribu cangkir kopi bersama Walikota Bandar Lampung dan seluruh anggota Asosiasi Suplayer Kopi Lampung (ASKL) di Tugu Adipura, Sabtu malam (9/4).

“Pemerintah Kota Bandar Lampung akan bekerjasama dengan pihak swasta untuk memasarkan kopi Lampung. Di Indonesia sendiri sebanyak 40 persen masyarakat mengkonsumsi kopi dari daerah lampung. Bahkan biji kopi kita sudah mencapai pasar internasional ,” ujarnya.

Upaya pemkot mendongkak angka ekspor kopi Lampung mendapat dukungan Ketua ASKL Mulyadi. Dirinya mengatakan, kopi Lampung perlu dipromosikan ke pasar komuditi internasional oleh semua pihak mengingat mutu dan kualitasnya sudah diakui para pecinta kopi di Indonesia.

Bahkan, lanjut dia, bubuk kopi Lampung dengan kualitas terbaik mempunyai harga jual tinggi dan nilai ekspor mencapai 60 persen dari angka nasional. “Harga untuk kopi Lampung bubuk dengan mutu sangat baik seharga Rp 5000/gram,” sambungnya.

Diketahui, Ekspor produk industri kopi instan asal Provinsi Lampung selama Maret 2016 mencapai 59,5 ton atau senilai USD523.032 angka tersebut turun bila dibandingkan bulan sebelumnya. “Jumlah itu turun bila dibandingkan ekspor pada bulan Februari 2016 dengan volume 66 ton senilai USD588.000,” kata Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Lampung Ferynia seperti yang dilansir, Senin lalu.

Ekspor kopi instan asal Lampung itu, lanjut dia, masih terus berlangung mengingat daerah ini sebagai pengasil kopi robusta, dan juga produsen kopi kemasan. Kendati tidak sebanyak ekspor biji kopi, menurut dia, beberapa negara ASEAN, seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam, menjadi negara tujuan utama ekspor kopi kemasan asal Lampung.

Ferynia menyebutkan beberapa negara lain, seperti di Timur Tengah dan Uni Eropa, juga menjadi tujuan ekspor kopi instan asal Lampung. Bahkan pangsa pasar kopi instan Lampung ke sejumlah negara masih terjaga hingga sekarang. Nilai maupun volume ekspor kopi Lampung, masih berfluktuasi tergantung pada permintaan serta kontrak perjanjian yang telah dibuat antara pengekspor dan pembeli.

Dirinya juga menjelaskan prospek ekspor kopi instan Lampung masih tetap cerah mengingat realisasi ekspor setiap bulan cukup baik. Selain itu, pihaknya juga terus mempromosi ke beberapa negara baik menggelar berbagai ajang pameran maupun melalui pamflet atau website. “Naiknya volume ekspor, antara lain akibat tingkat permintaan yang cenderung tinggi serta faktor harga di pasar dunia,” katanya.

Dinas Perindag Lampung mengatakan bahwa sentra produksi industri komoditas kopi instan Lampung terdapat di Kota Bandarlampung dan beberapa daerah penghasil kopi lainnya, seperti Lampung Barat dan Tanggamus.

Kota Bandarlampung, lanjut dia, memiliki kapasitas produksi kopi instan rata-rata 6.000 hingga 10.000 ton per tahun. “Penjualan kopi instan di dalam negeri dengan rata-rata 50 sampai dengan 100 ton per bulannya,” ujar dia pula.

Luas areal kopi di Lampung mencapai 163.837 hektare dengan produksi kopi mencapai sekitar 100 ribu s.d. 120 ribu ton per tahun. (Riki Erta/dbs)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar