Film ‘Naura dan Gank Juara’ dianggap Menghina dan Melecehkan Islam

Kamis, 23 November 2017

 

Lampung Centre – Kehadiran film musikal berjudul Naura dan Gank Juara yang semula diharapkan bisa menjadi penawar rindu anak-anak indonesia, tidak sesuai harapan. Bahkan, film yang dibintangi Adyla Rafa Naura Ayu, putri Nola B3, jadi buah bibir di kalangan media sosial.

 

Salah satu yang menjadi sorotan ialah, Status Facebook Nina Asterly dan Windi Ningsih, lengkap dengan petisi online di Change.org, salah satunya menyoal kalimat istighfar, takbir, doa yang jadi dialog tokoh penjahat dalam film ini.

 

“Islam dicitrakan sebagai penjahat berjenggot, yang meski menteriakan takbir, sering istighfar, namun kelakuan bejat, bahkan di film dinamai trio licik,” tulis Windi Ningsih.

 

Kalimat istighfar atau Astaghfirullahaladzim keluar saat salah satu penjahat merasa diabaikan oleh rekannya. Adegan terus berlangsung sampai salah satu penjahat kembali berbuat ulah. Ia didorong oleh rekannya dan mengeluhkan hal tersebut.

“Ya Allah kasar bener dorong-dorong,” ujar salah satu tokoh jahat tersebut.

Selanjutnya, ada adegan ketika Genk Naura mengerjai penjahat. Salah satu penjahat yang ketakutan melafalkan doa sebelum makan. Bukan doa yang biasanya diucapkan dalam film horor, Ayat Kursi atau Surat Yasin misalnya.

“Allahumma baarik lanaa fiima razaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar,” kata salah satu penjahat.

“Itu kan doa makan”, protes penjahat lainnya.

“Kalau ketakutan bawannya pengen makan,” kata penjahat tersebut membalas.

Cerita kembali berlanjut. Naura dan kawan-kawan berhasil mengerjai para penjahat. Penjahat yang panik itu menyebut takbir dan istighfar beberapa kali karena dikerjai oleh anak-anak.

Lalu, soal penampilan para penjahat. Penjahat yang dijuluki Trio Licik dalam film tersebut memang menggunakan brewok dan janggut. Hal tersebut yang dipermasalahkan oleh warganet. Sementara celana isbal atau di atas mata kaki tak terlihat dikenakan oleh penjahat.

Trio Licik dalam Naura dan Genk Juara digambarkan sebagai pria berbadan tinggi besar dengan wajah yang dibuat sangar namun kepintaran dan kecerdasan di bawah rata-rata penjahat dalam film genre lainnya.

Sang produser, Amalia Prabowo, tak pernah mengira jenggot mereka bisa menimbulkan perdebatan soal dugaan mengecilkan suatu agama.

“Dari awal tujuan kami tidak ada niat mendiskreditkan agama atau kelompok tertentu ya karena tujuan utamanya bukan itu,” kata Amalia di Kota Kasablanka.

Dihubungi terpisah, Lembaga Sensor Film Indonesia (LSF) juga menampik ada upaya menghina Islam dalam film ini.

“Ini film dibuat dengan setting Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Jika penjahatnya beragama Islam ya wajar-wajar saja,” kata Imam Suhardjo, Ketua Komisi I Bidang Penyensoran dan Dialog LSF kepada VIVA.

Dia melanjutkan, soal penjahat yang membaca doa pun tidak menjadi masalah.

“Ketika si penjahat di tengah malam di hutan lagi ketakutan karena mengira ada hantu, salah satunya berdoa. Karena dia muslim dia bacanya doa Islam. Tapi yang dibaca salah ‘comot’, yang dibaca doa mau makan, Allhumma baariklanaa fiima razaqtanaa..dst. Dia ditegur temannya, ‘Itu doa mau makan.’ Kita tahu bahwa penjahatnya muslim ya karena dia baca doa itu. Tak ada penggambaran spesifik bahwa muslim itu jahat. Lagi-lagi dia adalah penjahat di negeri mayoritas penduduknya muslim,” Imam menambahkan.

Amalia juga mengundang warganet untuk menonton terlebih dahulu sebelum menghakimi lebih jauh.

“Kebanyakan yang menghujat kami itu belum nonton. Jadi yang saya minta, sudah nonton dulu. Kami sangat terbuka untuk menerima kritik. Monggo dikritik,” ujar Amalia. (viva/red)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar