Gubernur dan Kemenhub Sepakat Bangun Jalan Lingkar Kereta Api

Selasa, 11 Juli 2017
Ilustrasi Pembangunan Jalan Kereta Api. Foto:Ist

Lampung Centre – Gubernur Lampung dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perkertaapian (Ditjen) sepakat membangun jalan lingkar luar Bandarlampung.

Akses baru ini memungkinkan kereta muatan batu bara tidak lagi melintasi dalam Kota Bandarlampung. Rencana pembangunan jalur shortcut Babaranjang tersebut menjadi prioritas dan akan direalisasikan pada tahun 2018.

Demikian kesepakatan Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo dan Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Prasetyo Boeditjahjono, pada rapat kerja di Kantor Kemenhub Jalan Medan Merdeka Barat No.8, Jakarta, Senin (10/7/2017).

Rapat diikuti antara lain oleh Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung Qudrotul Ikhwan, dan Kepala Divisi Regional IV Tanjungkarang, Suryawan Putra Hia. Hasil rapat itu dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman bersama atau memorandum of understanding (MoU) antara Pemerintah Provinsi Lampung (Pemprov) dan Ditjen Perkeretaapian.

Dalam MoU itu, tertuang antara lain percepatan pembangunan jalur KA Rejorasari-Tarahan dan kewajiban Pemprov Lampung ikut membantu pembebasan lahan. Pada rapat tersebut, Muhamnad Ridho menyampaikan keluhan warga Bandarlampung atas makin tingginya frekuensi perjalanan Babaranjang.

Sambil bergurau, dia mengatakan KA Babaranjang lewat, bisa habis sebatang rokok untuk menunggunya. “Saya menyampaikan aspirasi warga Bandarlampung, agar seluruh KA industri tidak lagi lewat kota,” kata Ridho.

Pemprov Lampung dan Ditjen Perkeretaapian juga sepakat, shortcut Rejosari-Tarahan, tidak lagi wacana dan rencana. Pada Tahun Anggaran (TA) 2018, rencana ini benar-benar terwujud di lapangan.

Dengan terbangunnya jalur sepanjang 37 kilometer tersebut, nantinya KA Babaranjang tidak lagi lewat Stasiun Gedung Ratu, Labuhan Ratu, Tanjungkarang, Garuntang, dan Pidada. “Seluruh KA industri tidak lagi memasuki Bandarlampung. Jadi, dibuatkan jalur lingkar luar. Lahannya sebanyak mungkin menggunakan lahan yang dibebaskan tim Jalan Tol Trans Sumatera, agar biaya pembebasan lahan tidak terlalu besar,” kata Muhammad Ridhi.

Jalur KA dalam kota sepenuhnya menjadi angkutan penumpang dengan konsep KA commuter jalan layang (elevated) antara Garuntang dan Natar sepanjang 8,8 kilometer. “Sehingga kereta api tidak memotong perlintasan kendaraan. Pada tahap awal tetap memakai rel yang ada. Ke depan jalur ini harus elevated atau harus naik,” tuntas Muhammad Ridho. (*)

 

Sumber:kompas.com

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar