Gubernur Luncurkan Gerakan Lampung Membaca

Jumat, 29 September 2017
Gubernur Lampung saat launching Gerakan Lampung Membaca. Foto: Ist

Lampung Centre – Gubernur Lampung Ridho Ficardo, disaksikan Duta Baca Indonesia Najwa Shihab,dan Kepala Perpustakaan Nasional Syarif Bando, melaunching Gerakan Lampung Membaca di halaman Kantor Gubernur, Kamis (28/09/2017).

Acara yang diikuti ribuan peserta itu, ditandai dengan penyerahan bantuan dari Perpustakaan Nasional, berupa Mobil Perpustakaan Keliling dan Buku, kepada Gubernur Lampung.

Sedangkan Pemerintah Provinsi Lampung menyerahkan Motor Keliling ke perpustakaan kabupaten/kota, penyerahan buku hasil donasi Duta Baca Indonesia kepada Komunitas Baca Lampung.

Menurut Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, tantangan saat ini bukan rendahnya minat baca masyarakat, tetapi masih minimnya akses terhadap bahan bacaan. “Dan menjadi tanggung jawab kita semua untuk menyediakan akses bahan bacaan itu,” ujar Najwa.

Mantan presenter Mata Najwa itu mengapresiasi Gerakan Lampung Membaca yang diinisiasi Gubernur dan jajarannya. “Kalau ini judulnya Program Lampung Membaca, saya yakin tidak akan banyak yang tertarik. Sebab kata ‘program’ masih dianggap sebagai urusan pemerintah. Tetapi ini kita pakai ‘Gerakan’, jadi semua bisa ikut,” ujarnya.

Najwa Shihab berharap Gerakan Lampung Membaca tak sebagai acara seremonial saja. Tetapi ada tindaklanjut untuk terus mendorong pemenuhan akses bacaan bagi seluruh masyarakat. “Ini tugas yang tidak mudah dan memerlukan kolaborasi. Jadi harus merangkul pihak-pihak lain. Gerakan ini akan berhasil bukan tergantung Pak Gubernur saja, tetapi kita semua yang bergerak ke seluruh pelosok,” katanya.

Sedangkan Gubernur Ridho Ficardo mengatakan, Gerakan Lampung Membaca harus disukseskan semua pemerintah kabupaten/kota, salah satunya dengan menyediakan bahan bacaan di tiap desa. Ditambahkannya, selama ini urusan perpustakaan seperti anak tiri. Bahkan, Ridho menyinggung dengan sebutan ‘duafa’. “Perpustakaan ini harus jadi urusan wajib. Selama ini, kategori anggaran perpustakaan menjadi anggaran ‘duafa’. Harapan saya, ini menjadi kesadaran para kepala daerah, karena apa yang kita bangun hari ini tidak akan banyak gunanya ketika

anak-anak kita tidak memiliki pengetahuan dan wawasan yang cukup melanjutkan pembangunan,” ujar Ridho.  Ditambahkannya, untuk pembangunan infrastruktur, Lampung jadi salah satu yang terpesat. Tetapi untuk pendidikan, masih jauh dibanding dengan provinsi lain di Sumatera.

“Semakin maju suatu daerah, semakin penting membekali mereka dalam berkompetisi, salah satunya adalah menyiapkan literatur dan yang paling dasar adalah membaca. Tingkatkan daya saing generasi muda Lampung, jangan sampai anakanak Lampung nantinya tidak jadi tuan rumah di daerah sendiri,” ujar Ridho.

Kepala Perpustakaan Nasional M. Syarif Bando, membenarkan jika perpustakaan belum jadi prioritas di berbagai daerah. “Kita selama berabad-abad percaya bahwa pembangunan infrastruktur yang paling penting, karena itu bersentuhan

langsung dengan kehidupan masyarakat. Makanya anggaran untuk perpustakaan paling kecil,” ujar Syarif. Selain itu, system pendidikan juga masih belum memberikan kesempatan kepada siswa untuk sering membaca. Ia mencontohkan, siswa belajar dari pagi hingga sore dan menghabiskan waktu di sekolah. Alhasil untuk membaca di perpustakaan maupun di tempat lain jadi terbatas.

“Kita berharap ini jadi perhatian semua pemda, baik pemprov dan juga kabupaten/kota. Harus disusun strateginya,” tutupnya. (net)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar