Harus Dilakukan Uji Mutu Beton Jalan Pringsewu – Pardasuka

Jumat, 05 Oktober 2018
Terlihat seseorang tengah melakukan uji mutu beton disebuah laboratorium tehnik sipil. (Sumber: Ist)

Bandarlampung (Lampung Centre) – Akademisi Universitas Lampung (Unila) meminta pihak berwenang melakukan uji mutu beton pada proyek pembangunan jalan Pringsewu – Pardasuka senilai Rp50 miliyar dari dana pinjaman PT SMI yang tertuang dalam APBD 2018.

Uji mutu beton bertujuan untuk meluruskan dugaan kecurangan yang dilakukan PT URM pada proses pembangunan jalan rigid (beton) Pringsewu – Pardasuka. Dengan dilakukan uji mutu beton, maka akan dapat diketahui apakah mutu dan kualitas beton sesuai standar atau tidak.

Akademisi Teknik Sipil Unila, Sasana Putra menjelaskan, dalam melakukan pemeriksaan pada pembangunan jalan beton biasanya pihak berwenang lebih tertuju pada volume pekerjaan dan kurang memperhatikan aspek mutu.

“Dalam melihat dugaan kecurangan pada pembangunan jalan beton rata-rata hanya tertuju pada volume saja tidak mendalami aspek mutu. Semestinya dilakukan juga pendalaman bagaimana mutu pekerjaannya,” kata Sasana Putra, Kamis (4/10).

Terlihat pekerja proyek pembangunan jalan rigid (beton) Pringsewu – Pardasuka sedang mengeluarkan besi dowel ketika proses pengecoran. (Foto: ist)

Baca juga:

http://lampungcentre.com/ingin-untung-banyak-jalan-beton-pringsewu-pardasuka-diduga-tidak-bertulang.html

 

Dirinya melihat, sejauh ini kualitas jalan beton di Lampung masih belum baik. Umumnya hal itu disebabkan karena para pihak kurang memperhatikan komposisi beton.

“Dalam ketentuan terbaru jalan beton setidaknya bertahan hingga 40 tahun. Kalau kita tidak usahlah, 20 tahun saja sudah bagus,” ujarnya.

Proses pembangunan jalan Pringsewu – Pardasuka. (Foto: ist)

Baca juga:

http://lampungcentre.com/akademisi-minta-crosscheck-perencanaan-jalan-pringsewu-pardasuka.html

 

Diberitakan sebelumnya, berdasarkan hasil pantauan di lokasi pembangunan jalan Pringsewu – Pardasuka, PT URM selaku perusahaan yang mengerjakan pembangunan diduga melakukan kecurangan dengan tidak menggunakan besi dowel yang berfungsi sebagai tulang rigid (beton).

Modus yang dilakuakan, sebelum cairan beton disiram ke atas lantai kerja, pihak perusahaan terlebih dahulu meletakan besi dowel dengan posisi tidak terikat untuk kemudian didokumentasikan. Setelah didokumentasi, kemudian para pekerja mengangkat kembali besi dan setelah itu barulah dilakukan pengecoran.

Menyikapi hal ini, Anggota DPRD Kabupaten Pringsewu Suryo Cahyo berpendapat, tindakan yang dilakukan pada pembangunan jalan belom Pringsewu-Pardasuka merupakan bagian dari tindakan pengurangan volume yang mengakibatkan minimnya kualitas hasil pekerjaan.

Dirinya juga mengaku, baru pertama kali melihat ada pengerjaan jalan digit yang tidak menggunakan besi sebagai tulang penyambung kontruksi beton.

“Kita memandang ini sangat miris, apalagi terlihat jelas ketika para pekerja sedang mengeluarkan besi pada proses pengecoran. Maka harus dibongkar kembali, karena tidak sesuai dengan harapan,” kata dia. (Septa Herian Palga)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar