Inilah Tempat Pertemuan Manusia Terluas di Muka Bumi

Senin, 08 Agustus 2016
Padang Arafah. Gambar Ilustrasi

Lampung Centre – Arafah merupakan tanah datar dikelilingi bukit berbatu. Bentuk lokasi Arafah bagaikan busur yang sangat besar. Tali busurnya adalah di Wadi Uranah. Padang Arafah disebut-sebut sebagai tempat pertemuan manusia terluas di muka bumi, Adam dan Hawa. Arafah adalah daerah terbuka dan luas di sebelah timur luar kota suci umat Islam di Makkah, Arab Saudi.

Di padang yang luas ini, pada satu hari (siang hari) tanggal 9 Dzulhijjah pada penanggalan Hijriyah berkumpullah lebih dari ribuan umat Islam dari berbagai pelosok dunia untuk melaksanakan inti ibadah haji yakni ibadah wukuf.

Pada waktu wukuf itu, jamaah menyiapkan diri untuk beribadah, shalat, zikir, berdoa. Jamaah perlu melakukan renungan, introspeksi, menimbang atau menghisab sendiri berapa berat pahala dan berapa pula berat dosa yang telah dilakukan selama ini. Jamaah perlu minta ampun dan memanjatkan doa kepada Allah SWT, karena doa orang yang sedang berwuquf akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Dalam buku Ensiklopedia Peradaban Islam Makkah karya Syafii Antonio disebutkan bahwa Pada tanggal 8 Dzulhijjah Rasulullah SAW berada di Mina, kemudian saat matahari terbit berangkat dari Mina menuju Arafah pada pagi hari tanggal 9 Dzulhijjah.

Rasulullah berangkat menuju Arafah dengan mengendarai kendaraan Al-Qushwa (unta). Dalam perjalanan, disertai dengan talbiyah, tahlil, dan takbir. Sampailah Rasulullah SAW di Masjid Namirah pada waktu Zhuhur, kemudian melakukan Shalat Zhuhur dan Ashar dengan menjama’ qashar (mengumpulkan dua shalat dalam satu waktu) dengan sekali azan dan dua iqamat. Selain shalat wajib, beliau tidak melakukan shalat apapun.

Rasulullah SAW bertolak menuju Arafah dan berkhutbah di Arafah. Rasulullah SAW menyampaikannya saat matahari tergelincir. Kemudian beliau memperbanyak istighfar dan berdoa. Setelah terbenam matahari atau sebelum shalat Maghrib tiba, beliau bertolak ke Muzdalifah, tidak menunggu shalat Maghrib, akan tetapi shalat Maghrib dan Isya dilaksanakan di Muzdalidah dengan cara menjama’ takhir.

Setelah matahari tergelincir pada hari Arafah, Rasulullah SAW meminta agar Al-Qashwa (nama unta beliau) didatangkan. Beliau kemudian menungganginya hingga tiba di tengah Padang Arafah. Di sana telah berkumpul sekitar 144 ribu kaum Muslim.

Beliau kemudian berdiri di hadapan mereka, menyampaikan khutbah haji terakhir beliau atau lebih dikenal dengan sebutan Haji Wada’. Tak lama setelah Rasulullah SAW menyampaikan khutbah tersebut, turun firman Allah SWT. “Pada hari ini telah Ku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah ku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan islam telah Ku ridhai menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al-Ma’idah (5):2).

Mendengar firman tersebut, Abu Bakar As Shiddiq menangis. Ketika ditanya mengapa menangis, beliau pun menjawab, “Tugas Rasulullah SAW mengemban amanah ini telah selesai jika tugas telah selesai besar kemungkinan beliau akan dipanggil Allah SWT.”

 

 

sumber: republika.co.id

 

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar