Jalan Pringsewu – Pardasuka Disarankan Uji Leboratorium Independent

Senin, 08 Oktober 2018
Gambar Ilustrasi. (Sumber: Ist)

Bandarlampung (Lampung Centre) – Element masyarakat mendukung pernyataan Akademisi Unila yang menyarankan untuk dilakukan uji mutu beton pada pembangunan jalan rigid (beton) Pringsewu – Pardasuka senilai Rp50 miliyar yang dikerjakan PT URM dari dana pinjaman PT SMI yang tertuang dalam APBD 2018.

Hal itu guna meluruskan dugaan penyimpangan pada proses pembangunan jalan yang mempengaruhi mutu dan kualitas beton jalan Pringsewu – Pardasuka.

Koordinator Koalisi Anak Rakyat, Darwis menyarankan, untuk melakukan uji mutu beton jalan Pringsewu – Pardasuka disarankan dari laboratorium independent. “Jangan dari laboratorium bohir atau pelaksana,” kata Darwis, Minggu (8/10).

Terlihat pekerja proyek pembangunan jalan rigid (beton) Pringsewu – Pardasuka sedang mengeluarkan besi dowel ketika proses pengecoran. (Foto: ist)

 

Proses pembangunan jalan Pringsewu – Pardasuka. (Foto: ist)

 

Berita sebelumnya:

Ingin Untung Banyak, Jalan Beton Pringsewu – Pardasuka Diduga Tidak Bertulang

PT URM Diduga Curangi Pembangunan Jalan, Pejabat Dinas PUPR Bungkam

Akademisi Minta Crosscheck Perencanaan Jalan Pringsewu – Pardasuka

Harus Dilakukan Uji Mutu Beton Jalan Pringsewu – Pardasuka

 

Diberitakan sebelumnya, berdasarkan hasil pantauan di lokasi pembangunan jalan Pringsewu – Pardasuka, PT URM selaku perusahaan yang mengerjakan pembangunan jalan tersebut diduga melakukan kecurangan dengan tidak menggunakan besi dowel yang berfungsi sebagai tulang rigid (beton).

Modus yang dilakuakan, sebelum cairan beton disiram ke atas lantai kerja, pihak perusahaan terlebih dahulu meletakan besi dowel dengan posisi tidak terikat untuk kemudian didokumentasikan. Setelah didokumentasi, kemudian para pekerja mengangkat kembali besi dan setelah itu barulah dilakukan pengecoran.

Menyikapi hal ini, Anggota DPRD Kabupaten Pringsewu Suryo Cahyo berpendapat, tindakan yang dilakukan pada pembangunan jalan belom Pringsewu-Pardasuka merupakan bagian dari tindakan pengurangan volume yang mengakibatkan minimnya kualitas hasil pekerjaan.

Dirinya juga mengaku, baru pertama kali melihat ada pengerjaan jalan digit yang tidak menggunakan besi sebagai tulang penyambung kontruksi beton.

“Kita memandang ini sangat miris, apalagi terlihat jelas ketika para pekerja sedang mengeluarkan besi pada proses pengecoran. Maka harus dibongkar kembali, karena tidak sesuai dengan harapan,” kata dia. (Septa Herian Palga)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar