Kapolresta Bandar Lampung Digugat Rp 2 Miliar

Sabtu, 02 Juli 2016
Kapolresta Bandar Lampung, Kombes Hari Nugroho. Foto: Istimewa

Lampung Centre – Kasus penyelundupan narkotika jenis sabu ke dalam sel tahanan Polresta Bandarlampung kian memanas. Keluarga anggota Sabhara Brigadir Satu Niazi Yusuf yang ditetapkan sebagi tersangka menggugat Kapolresta Bandarlampung Komisaris Besar Hari Nugroho ke pra peradilan.

Faisal, kakak Niazi, melalui kuasa hukumnya David Sihombing, mengajukan gugatan pra peradilan ke Pengadilan Negeri Tanjungkarang terkait penetapan Niazi sebagai tersangka oleh penyidik Satuan Reserse Narkoba.

Sidang perdana gugatan pra peradilan berlangsung, Jumat (1/7), dipimpin hakim Syamsul Arief ini mendengarkan pembacaan gugatan oleh pihak Niazi yang dibawakan kuasa hukumnya David.

David menyatakan penetapan Niazi sebagai tersangka tidak sah karena tidak didukung dua alat bukti. Sebab penyidik Satuan Reserse Narkoba Brigadir Sri Windari yang memegang perkara Niazi mengakui belum ada pemeriksaan saksi-saksi.

“Sri Windari menyatakan saksi-saksi dalam perkara yang ditanganinya belum diperiksa sementara Niazi sudah jadi tersangka dan berkas perkara sudah tahap 1. Ini berarti belum ada alat bukti yang cukup untuk menjerat Niazi sebagai tersangka,” jelas David.

Alasan lainnya, kata David, Niazi ditetapkan menjadi tersangka berdasarkan laporan polisi model A. Laporan model A adalah laporan yang dibuat aparat polisi yang menemukan langsung peristiwa yang terjadi. Padahal kenyataanya, kata dia, barang bukti sabu tidak ditemukan di tangan Niazi melainkan di tubuh tahanan perempuan bernama Winda.

“Tidak ditemukannya barang bukti di tangan Niazi maka dalam hal ini penyidik membuat laporan polisi yang salah,” kata David. Jika pun memang benar sudah ada pemeriksaan saksi-saksi, menurut David, baru satu alat bukti yang dimiliki penyidik.

David Sihombing, kuasa hukum Faisal, kakak Brigadir Satu Niazi Yusuf, menganggap tindakan penyidik Satuan Reserse Narkoba yang melakukan splitsing (pemisahan) perkara Niazi menyalahi prosedur.

Dalam perkara penemuan sabu di tersebut, penyidik menetapkan Niazi sebagai tersangka pemilik sabu. Padahal, ada tiga tahanan perempuan yang juga dijadikan tersangka oleh Satuan Reserse Narkoba.

Menurut David, berkas perkara Niazi dipisah dengan berkas perkara para tersangka lainnya. “Tidak ada dasar bagi penyidik untuk melakukan splitsing, karena pasal yang disangkakan antara Niazi dengan tersangka lainnya sama,” ucap dia.

Pemisahan perkara, kata David, bisa dilakukan jika kualitas peran para tersangka berbeda dan ada perbedaan ketentuan hukum yang dilanggar. David mengutarakan, yang berhak melakukan pemisahan perkara adalah jaksa bukan penyidik kepolisian.

Dirinya meminta hakim untuk membatalkan penetapan tersangka Niazi dan meminta hakim menghukum Kapolresta Bandar Lampung untuk membayar kerugian materil sebesar Rp 30 juta.

“Kami juga meminta hakim menghukum termohon (Kapolresta Bandar Lampung) membayar kerugian imateril sebesar Rp 2 miliar,” kata David di dalam persidangan. (*)

 

 

Sumber: Tribunlampung

 

 

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar