Kasus Raskin tak Layak Konsumsi Kembali Terjadi di Lampura

Selasa, 28 Juni 2016
Ilustrasi Raskin. Foto: Istimewa

Lampung Centre – Kasus beredarnya beras untuk rakyat miskin (raskin) tidak layak konsumsi kembali terjadi di Kabupaten Lampung Utara (Lampura).

Komisi II DPRD Lampura saat melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) setempat menemukan raskin tak layak konsumsi.

Ketua Komisi II DPRD Lampura Herwan Mega selaku pimpinan sidak mengatakan, sidak ini dilakukan beredarnya pemberitaan media massa tentang buruknya kualitas beras raskin yang dijual di bazar murah sembako di Kecamatan Abung Barat, Rabu (27/6) lalu.

Menurut Herwan Mega, selaku mitra Bulog pihaknya harus menelusuri kebenaran infomarmasi tersebut. “ Karenanya kami mengecek ke gudang ini. Ketika kami cek ke gudang Bulog, dugaannya benar ada berbagai jenis beras yang bisa digolongkan menjadi dua jenis yakni beras kualitas baik ada juga yang sudah tidak layak konsumsi. Semua dalam karung ukuran 15 kilo yang sudah terbuka,” jelas Herwan Mega, Selasa (28/6).

Herwan Mega menilai, adanya dua jenis beras Raskin di gudang Bulog Lampura, tidak menutup kemungkinan akan dioplos. DPRD, kata Herwan akan memanggil pihak-pihak terkait untuk membahas permasalahan ini agar masyarakat tidak dirugikan. “Ada karung isi beras bagus ada yang isinya buruk, terus ada tumpukan juga yang berisi terkesan campuran. Kalo terbukti terjadi pengoplosan maka akan ditindaklanjuti sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku,” katanya.

Kepala Gudang Bulog setempat, Iwan, membantah telah melakukan pengoplosan beras. Khusus kasus kemarin, beras itu bukan berasal dari gudang Bulog melainkan dari pihak luar. “Kami tidak berani melakukan pengoplosan. Kami hanya melakukan aktivitas pengepakan ke karung ukuran kecil (rabacking) karena pendistribusian raskin berukuran 15 kilo bukan 50 kilo,” terang Iwan.

Menurut Iwan, beras yang ada di gudang terdiri dari 40 persen beras impor dan 60 persen beras lokal. Dengan daya tampung beras 5000 ton yang perputarannya mencapai  dua hingga tiga bulan. “Kebutuhan Raskin di Lampura mencapai 840 ton lebih belum ditambahkan untuk Waykanan dan sebagainya,” ujar Iwan.

Terpisah, Kepala Sub Bulog Lampura, Guntur membantah beras yang ada di gudang Bulog tersebut tidak layak konsumsi.

Adanya beras tidak layak konsumsi di bazar murah, kata dia, bukan beras dari gudang Bulog melainkan langsung dari pabrik penggilingan. Diakuinya, Bulog mengalami kendala, satu sisi harus menyerap beras dengan harga pokok pemerintah (hpp) Rp7.300/kg. Dan harus memprioritaskan penyerapan beras lokal. Pada sisi lain harus menjaga kualitas beras dengan harga itu. Itu masih layak konsumsi, cuma saja warnanya yang tidak sama dengan beras premium. Kemarin langsung kita tarik dan diganti dengan kualitas premium,” katanya.

Sebelumnya pada awal 2015 juga pernah terjadi Raskin yang didistribusikan oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre II Lampura tidak layak konsumi. Dugaan adanya Raskin tidak layak konsumsi ini pertama kali diketahui terjadi di RT1/RW3, Kelurahan Tanjung Aman, Kecamatan Kotabumi Selatan, Lampung Utara, Jumat (16/1).

 

sumber: dbs

 

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar