Keutamaan Bulan Muharram

Sabtu, 07 September 2019

Pelajaran Bulan Muharram

K.H.Uzairon Thoifur Abdillah Rohimahulloh

Pada bulan Muharram yang mulia ini, kita mendapatkan pelajaran yang besar dari Allah Ta’ala. Pada bulan Muharram yang mulia ini, Allah Ta’ala  telah memberikan pelajaran yang sangat besar kepada kita. Pada tanggal 10 Muharram Allah Ta’ala  mendatangkan pertolongan-Nya kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam, sehingga Nabi Musa dengan kaumnya Bani Israil telah selamat dari penindasan, kehinaaan yang telah lama sekali mereka derita. Fir’aun telah dihancurkan pada 10 Muharram. Ini pelajaran bahwa orang-orang yang ingin sukses, ingin mulia, dengan tanpa agama Allah Ta’ala  akhirnya celaka belaka, walaupun  awalnya mau enak, awalnya sepertinya mau sakses, tetapi akhirnya pasti Allah Ta’ala  akan datangkan kehinaan-kehinaan, keresahan-keresahan, kesusahan-kesusahan  di dunia ini sebelum di akhirat. Sebaliknya orang yang berpegangan dengan agama Allah Ta’ala, walaupun awalnya mengalami kesusahan, penderitaan, tetapi akhirnya kemuliaan akan didatangkan oleh Allah Ta’ala  kepada mereka. Allah Ta’ala  berfirman:

و العاقبة للمتقين

‘’Akhir yang baik adalah milik orang-orang yang bertakwa’’

Maka apa saja aturan agama ini, baik yang pahit ataupun yang manis, yang berat maupun yang mudah, mesti kita rasakan semua, ini adalah rahmat Allah Ta’ala untuk kita semua, supaya kita menjadi orang-orang yang mulia di dunia dan di akhirat, mesti harus kita pahami seluruh amalan-amalan yang tidak sesuai dengan syariat walaupun kelihatannya menyenangkan, tapi akhirnya akan menyusahkan kita di dunia dan di akhirat.

Allah Ta’ala  memerintahkan kepada wanita-wanita untuk menutup auratnya secara sempurna, maka sebagian wanita ada yang tidak paham, sehingga merasa keberatan dengan tertib ini, padahal kalau tertib ini digunakan, seumpama wanita mau menutup aurat secara sempurna, maka yang beruntung pertama adalah wanita-wanita itu sendiri, keberuntung pertama adalah wanita itu akan senatiasa mendapatkan pahala dimana-mana selama penutup auratnya masih menempel di tubuhnya, keberuntung yang kedua adalah selamatlah suami-suami wanita itu. Kenapa suami menyusahkan, ngluyur kesana, ngluyur kesini? Karena banyaknya wanita yang membuka aurat. Ketika wanita telah membuka auratnya, maka tidak ada keluarga lagi yang tentram pada hari ini.

Begitu pula laki-laki, Allah Ta’ala  memerintahkan dalam al-Qur’an:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذلِكَ أَزْكى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِما يَصْنَعُونَ

 “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka manahan pandangannya, dan memelihara kemaluanya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa saja yang mereka perbuat.”(Q.S. An Nur :30)

Laki-laki diperintahkan untuk menjaga pandangannya, tidak boleh melihat wanita-wanita yang bukan mahronya. Siapa yang beruntung dangan aturan ini, yaitu laki-laki itu sendiri. Kalau laki-laki semuanya menjaga pandangannya, maka tentu putri-putrinya, anak perempuannya akan terjaga, karena laki-laki semua ada yang mempunyai sifat malu. Tetapi hari ini laki-laki tidak bisa menjaga pandangannya atau tidak mau menjaga pandangannya, akhirnya sedikit sekali laki-laki yang bisa puas dengan istrinya. Akhirnya yang susah kita sendiri.

Rumah-rumah 24 jam diputar televisi, radio, koran, majalah, sepertinya itu semua adalah hiburan,  tetapi pengrusak kepada otak-otak manusia dan keluarga kita. Maka wanita pun tidak puas dengan keadaan rumahnya, maka syetan menggiring laki-laki dan wanita ke jurang kemaksiatan dan jurang api neraka. Maka Maulana Umar Rahmatullah ‘alaihi beliau mengatakan,  “Kemaksiatan itu seperti penyakit gatal, pertama kali digaruk sepertinya itu enak, tetapi lama-kelamaan akhirnya membikin busuk semua tubuh kita.”

Semua aturan-aturan syariat ini hakikatnya membahagiakan kita, untuk menjadikan kehidupan kita ini tenang dan tentram dengan materi, dengan benda dan harta. Seumpama manusia bisa tenang, tentram, bahagia dengan harta, dengan materi, tentu fir’aun menjadi orang yang sangat tenang dan tentram, tetapi fir’aun kehidupannya senantiasa dalam keadaan kehidupan yang sempit, kehidupan yang resah, walaupun fasilitas materi ada dalam kehidupannya.

Inilah pelajaran penting dalam bulan Muharram, pelanggaran kepada syariat hakikatnya akan menyusahkan kita sendiri.

Ini baru secara akal yang zhahir, belum secara pengetahuan gaib, bahwa semua kemaksiatan akan mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala, sehingga bagaimana  kita akan bisa tenang dan tentram di bumi Allah, ketika kita senatiasa dimurkai Allah Ta’ala. Amalan-amalan kebaikan akan mendatangkan ridho Allah, dan ridho Allah ini akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman dalam kehidupan kita.

Baginda Nabi Shallallahu’ alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau kamu masuk rumah ucapkanlah salam kepada keluarga kamu, maka akan banyak kebaikan datang dalam keluarga kamu.”

Alangkah mudahnya arahan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini tetapi alangkah sedikitnya orang yang mengamalkan. Kita merasa kebaikan akan datang ke rumah kita kalau kita punya harta, kalau kita punya mobil, punya sepeda, punya lemari-lemari yamg baik, tetapi Nabi tidak mengatakan yang demikian itu. Akan datang kebaikan-kebaikan, akan banyak kebaikan-kebaikan, kebaikan akan datang ke rumah kita kalau kita ini masuk rumah mengucapkan salam. Para ulama’ mengatakan, “Kalau seseorang masuk rumah mengucapkan salam, kemudian membaca sholawat 3 kali dan surat al-Ikhlas 3 kali, maka akan selesai masalah-masalah rumah.” Alangkah mudahnya menyelesaikan masalah dengan amalan, bagi orang yang di dalam hatinya ada yakin. Kita semua ingin hidup bahagia, tapi menyelesaikan masalah bukan dengan cara amal, akhirnya kita ini tambah hari tambah resah, tidak ada selesainya. Seumpama harta benda dapat menyelesaikan masalah, tentu orang kaya di dunia ini sudah selesai masalahnya. Kalau kita teliti bagaimana kehidupan orang-orang kaya di dunia ini, justru merekalah orang yang paling banyak masalah di dunia ini, masalah dengan keluarganya, masalah dengan anaknya, masalah dengan macam-macam urusan.

Tidak ada cara untuk menyelesaikan masalah selain dalam sunah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang kita ingin menjaga harta kita dengan cara ini cara itu, sedangkan Baginda Nabi mengarahkan kepada kita jagalah harta kamu dengan zakat. Siapa yang mempunyai pemikiran seperti itu?

Orang tidak mau zakat, akhirnya hartanya tidak ada keberkahan, hartanya banyak, tetapi justru menimbulkan masalah-masalah yang tidak ada kunjung akhirnya, ini baru di dunia belum di akhirat nanti, harta benda mereka akan menjadi bara api nerakayang akan menyusahkan mereka selama-lamanya. Sekarang banyak orang sakit, pikirnya hanyalah, bagaimana dibawa ke dokter, beli obat ini, beli obat itu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

دَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ

‘’Obatilah orang-orang sakit itu dengan shodaqoh”

Ini arahan-arahan dari Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Allah Ta’ala , Dialah Allah yang menciptakan penyakit, Dialah pula yang menciptakan obatnya.

Kalau kita jaga amalan-amalan, Allah akan jaga kita,

حافِظُوا عَلَى الصَّلَواتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطى وَقُومُوا لِلَّهِ قانِتِينَ

 “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat Wusthaa dan berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Q.S Al Baqoroh : 238)

Kalau kita menjaga shalat, maka shalat itu akan dijadikan oleh Allah Ta’ala  menjaga kita. Barang siapa yang pagi-pagi hari mengucapkan lafadz:

لَقَدْ جاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ ما عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ (128) فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (129)

 “Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada tuhan selain Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (Q.S. At Taubah: 128-129).

KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM

Muharom merupakan salah satu bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala (Ashur al-Hurum). Dinamakan Ashur al-Hurum karena, dipermulaan Islam, kaum muslimin tidak diperbolehkan melakukan pertempuran dalam bulan-bulan tersebut.

يسئلونك عن الشهر الحرام قتال فيه قل قتال فيه كبير

“Mereka bertanya kepada engkau tentang bulan Harom, “Bagaimanakah berperang pada bulan itu?” Katakanlah, “berperang pada bulan itu adalah besar dosanya.”

Namun akhirnya, larangan berperang tersebut dihapus berdasarkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala.

 وقاتلوا المشركين كافة كما يقاتلونكم كافةواعلموان الله مع المتقين

“Dan perangilah orang orang musyrik semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semua. Ketahuilah, bahwa Allah bersama orang-orang yang yang bertaqwa.”(Q.S At-Taubah).

Puasa Bulan Muharom

Dianjurkan  melakukan puasa pada hari-harinya bulan Muharom, karena amal kebajikan yang dilakukan dalam bulan tersebut nilai pahalanya berlipat ganda. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh ImamThobroni bahwa Baginda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

(من صام يومًا من المحرم فله بكل يوم ثلاثون حسنة  (الطبرانى عن ابن عباس

“Barang siapa yang berpuasa sehari dalam bulan Muharom, maka setiap harinya dia memperoleh tiga puluh kebaikan.”

Al- Imam Thobroni meriwayatkan,

«مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ كَانَ لَهُ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ , وَمَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثُونَ يَوْمًا»

“ Barang siapa yang berpuasa pada hari Arafoh maka puasa tersebut sebagai kafarot (penebus dosa) selama  dua tahun. Dan barang siapa yang berpuasa sehari dalam bulan Muharom itu sebanding dengan berpuasa tiga puluh hari.”

PUASA TASUA’

Pada tanggal 9 Muharom disunahkan untuk menjalankan ibadah puasa. Sayyidina Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Berpuasalah pada hari Asyuro’dan berbedalah dengan orang Yahudi. Berpuasalah sehari sebelum Asyuro dan sehari sebelumnya,”

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لئن بقيت الى قابل لأصومن التاسع

Rasulallah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  ”Sungguh apabila aku masih ada sampai tahun depan maka aku akan menjalankan puasa pada hari kesembilan (Muharom).”

PUASA ASYURA

Tatkala Nabi Salallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah beliau melihat orang orang Yahudi melakukan puasa Asyuro, beliau bertanya hari apa ini? Orang-orang Yahudi menjawab ini adalah hari baik, pada hari ini Allah Subhanahu wa ta’alamenyelamatkan Bani Isroil dan musuh nya, maka Nabi Musa ‘Alaihissalam berpuasa pada hari ini.

Baginda Nabi Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فأنا أحق بموسى منكم

“Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi),” Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya. (HR.Al-Bukhori)

Imam Muslim meriwayatkan,

   سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم عن صيام يوم عا شراء فقال يكفر السنة الماضية

“Rasulallah Salallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang fadhilahnya puasa hari Asyuro, kemudian Beliau bersabda yaitu menghapus dosa satu tahun yang lalu.”

Dalam kitab Tanbihul Ghofilin disebutkankan hadist yang menyatakan bahwa barang siapa yang menjalankan puasa pada tanggal 10 Muharom ( hari Asyuro), maka dia akan mendapatkan pahalanya sepuluh ribu malaikat, sepuluh ribu pahalanya orang yang melakukan haji dan umroh dan pahalanya sepuluh ribu orang yang mati syahid. Dan barang siapa yang memberi buka pada orang yang berpuasa pada hari Asyuro maka dia akan mendapatkan pahala seperti memberi makan sampai kenyang terhadap semua ummat baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wa sallam.

(Sumber: http://alfatahtemboro.net/keutamaan-bulan-muharram/)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar