Kurang Tengahkan Kearifan Lokal, EO Lampung Fair Dianggap Gagal

Minggu, 17 Desember 2017

Lampung Centre – Penyelenggaraan Lampung Fair 2017 yang baru dibuka beberapa hari yang lalu, menuai kecaman keras tokoh masyarakat. Hal tersebut lantaran, pihak penyelenggara yakni PT Grand Modern dianggap kurang menengahkan kearifan lokal dalam kegiatan tahunan yang sempat libur selama dua tahun.

Ketua Adat Negeri Olok Gading M.Yusuf Erdiansyah Putra mengaku sangat kecewa serta prihatin dengan gelaran Lampung Fair 2017 karena tidak pekanya pihak ketiga terhadap kearifan lokal dan justru lebih memilih budaya luar daerah sebagai kontes dalam gelaran tersebut.

“Seharusnya Dinas Pariwisata juga lebih selektif dan memberikan masukan kepada pihak ketiga yang bertanggungjawab sebagai panitia kegiatan,” kata Erdiansyah, Sabtu (16/12).

Sejatinya agenda besar seperti Lampung Fair mampu menjadikan budaya Lampung sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Namun sayangnya, jangankan diberikan porsi lebih, yang ada justru kami lihat penyelenggara melakukan promosi besar-besaran untuk lomba Reog dan Kuda Lumping.

Politisi Partai Hanura ini menegaskan, pihaknya tidak alergi dengan budaya di luar Lampung lain karena tak dapat dihindari jika Provinsi Lampung daerah heterogen, berbagai macam suku, dapat ditemukan di Bumi lada.

Adanya budaya luar Lampung yang berkembang, merupakan konsekuensi logis betapa majemuknya Bumi Rua Jurai dan hal itu harus dihargai serta di hormati oleh semua pihak.

“ Tak ada yang salah dengan Reog ataupun Kuda Lumping, kami tidak alergi dengan budaya saudara kita dari luar Lampung, namun untuk kedepan tidak terjadi lagi seperti ini, kami respek dengan budaya luar yang ada di Lampung, jadi tak ada salahnya jika kearifan lokal lebih dominan apalagi itu tujuannya untuk melestarikan tradisi,” tegas Gusti Pangeran Igama Khatu.

Sebelumnya, Ketua I Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Provinsi Lampung Rahmad Darmansyah Yusie mengatakan, seharusnya pihak penyelenggara Lampung Fair 2017 lebih menengahkan kebudayaan Lampung disamping menggelar festival kebudayaan daerah lain.

“Seharusnya menengahkan budaya lokal. Jadi saya meminta kalau masih bisa disusun dimasukan lah budaya Lampung. Kalau reog kan budaya Indonesia tapi bukan budaya lokal. Jadi kita ketengahkan budaya-budaya lokal seperti sastra ataupun tarian-tarian adat Lampung,” kata Darmansyah ketika dihubungi melalui sambungan celuller pribadinya, beberapa waktu lalu.

Dirinya melihat, gelaran Lampung Fair sebelumnya dianggap sudah baik karena memasukan kebudayaan daerah pada even yang semula bernama Pameran Pembangunan itu. Maka dari itu, lanjutnya, pihak penyelenggara tahun ini dimanta jangan menghapus kebudayaan lokal dari even Lampung Fair.

“Kalau tadi-tadinya sudah bagus sih, tapi kalau saat ini kita juga tidak ada didalamnya, karena selama ini MPAL juga kurang diikutkan,” lanjutnya.

MPAL Lampung berharap, bidang kebudayaan penyelenggera Lampung Fair 2017  lebih menengahkan budaya lokal yang tidak kalah menarik dibandingkan Reog Ponorogo dan Kuda Lumpung. Seperti Festival Tuping dari Lampung selatan atau Festival Topeng (Sakura) dari Lampung Barat.

“Kalau reog bukan kita tidak mengindahkan, tapi budaya lokal kan harus diketegahkan. Nanti orang-orang akan bertanya mengapa reog dan kuda lumping. Sementara reog kan ponorogo, jadi saya meminta kepada penyelenggara agar diketengahkan budaya lampung. Ya minimal Cupping, itu kan bisa meminta kepada Lampung Selatan, Lampung Barat, Pesisir barat. Tidak usah besar-besar, kalau bisa murah meriah,” imbuhnya.

Sementara itu, pihak PT Grand Modern selaku Even Organizer (EO) Lampung Fair 2017 Sukaryadi tampak tidak ingin memberikan tanggapan terkait tidak dimasukannya kebudayaan daerah dalam Lampung Fair 2017, dengan alasan sedang berada diperjalanan. “Sabar ya, saya sedang dalam pesawat,” singkatnya Sukaryadi. (Pena/red)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar