Menteri PPPA: Perempuan Lebih Maju Di 2030

Kamis, 19 Oktober 2017
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, (Foto: Humas Pemprov).

 

Lampung Centre – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, mengatakan pemerintah menargetkan pada 2030, perempuan Indonesia lebih maju dibandingkan negara lain. Kini, Indonesia satu dari 10 negara besar yang ditunjuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membawa perempuan setara gender 50:50 bukan 30:70 lagi.

 

“Perempuan jangan dianggap sebagai manusia nomor dua. Saat ini ada sembilan perempuan dalam Kabinet Presiden Joko Widodo. Data BPS juga menunjukkan mahasiswa di kampus 60 persen wanita dan 40 persen laki-laki. Namun partisipasi melamar pekerjaan laki-laki 70 persen dan wanita 30 persen,” kata Yohana ketika menjadi keynote speaker seminar nasional berema ‘Membangun Budaya Adil Gender dan Ramah Anak” dalam rangka Dies Natalis ke-52 Universitas Lampung, di Ruang Abung Balai Keratun, Selasa (17/10).

 

Menurut Menteri Yohana, pemerintah giat menyukseskan program PBB. “Perempuan dan anak adalah pilar penting di PBB sekarang. Ada 17 indikator, yang kelima tentang gender dan kesetaraan gender. Saya bersyukur di Provinsi Lampung banyak pejabat perempuan,” ujar Yohana.

 

Dalam menyukseskan itu, Kementerian PPPA melibatkan perguruan tinggi. Seperti kajian tentang ‘Female Genital Mutilation oleh empat Perguruan Tinggi’ di empat provinsi. Selain itu, kajian tentang ‘Grand Desain Intervensi Program Perempuan dan Anak di Papua dan Papua Barat’ yang melibatkan universitas dan dan Dewan Adat Papua.

 

“Sebagai dosen, saya percaya banyak inisiatif dan upaya perguruan tinggi dalam membangun masyarakat. Banyak program inovatif dan aplikatif yang lahir. Dosen dan mahasiswa juga berperan sebagai agent of control dan perubahan,” kata Menteri Yohana.

 

Persoalan gender, menurut Rektor Universitas Lampung, Hasriadi Mat Akin, tidak terlepas dari budaya. “Budaya patriliniar menganggap posisi perempuan menjadi subordinat. Selain itu pemahaman agama yang kurang tepat sehingga perempuan menjadi subordinat,” ujar Hasriadi.

 

Di bidang pendidikan anak, perempuan berperan menjadikan anak generasi penerus yang berkualitas di masa depan. Dengan bekal ilmu pengetahuan, perempuan bisa mendidik anak dengan baik. Saat ini  jurusan di Universitas Lampung, seperti Kedokteran dan Hukum 70 persen adalah perempuan. “Diharapkan perempuan di Lampung menjadi ujung tombak masa depan negara kita,” kata Hasriadi.

 

Usai menghadiri seminar, Menteri PPPA menghadiri ramah tamah dengan 50 mahasiswa Universitas Lampung asal Papua. Menteri mengharapkan, setelah lulus para mahasiswa dapat membangun dan mengelola Tanah Papua.

 

“Tanah Papua ke depan ada di pundak mahasiswa. Saat mereka kembali diharapkan, menjadi sumber daya manusia yang berguna untuk bangsa dan negara. Perempuan Papua hendaknya juga tidak kalah andil dari laki-laki di Papua, sehingga menjadi asset pemimpin di Tanah Papua,” kata Menteri Yohana. (rls/red)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar