Pemerintah Gencar Mengalihkan Beras ke Ubi dan Sagu

Minggu, 01 Maret 2015
Gambar: Antarafoto.com

Lampung Centre – Lonjakan harga beras yang terjadi dibeberapa daerah membuat masyarakat menjerit, mengingat beras masih menjadi kebutuhan pokok yang paling dibutuhkan masyarakat.

Kondisi yang terjadi ini mengingatkan kembali soal upaya keras pemerintah dalam melakukan disverifikasi pangan, mengalihkan kebiasaan makan nasi ke bahan pangan lain.

Kepala Bagian Umum Ditjen Tanaman Pangan Kementan Sarwo Edhy di kantor BKPM, Jakarta, Kamis (26/2), mengatakan hal tersebut dilakukan guna menekan kebutuhan beras nasional. “Agar kebutuhan beras nasional bisa ditekan,” kata Sarwo Edhy.

Untuk merealisasikan diversifikasi tersebut, saat ini Kementerian Pertanian gencar menawarkan promosi investasi sektor pertanian kepada investor asing. Luasnya lahan dan suburnya tanah di Indonesia, jadi bahan promosi ke investor agar menanamkan modalnya di dalam negeri.

Dengan modal yang besar, lahan-lahan tersebut bisa dimaksimalkan menanam bahan pangan alternatif selain padi. Bahan pangan pengganti itu kemudian diolah untuk konsumsi masyarakat. “Jadi promosi itu untuk mengurangi konsumsi beras. Biasanya diversifikasi ke sagu atau ubi jalar dan kayu,” ucapnya.

Saat ini sudah dua negara pertanian yang berminat menanamkan modalnya. Alasan yang buat mereka tertarik menanamkan modal di Indonesia, lantaran luas lahan dan potensi pertanian di Indonesia masih cukup besar. Apalagi investor asing yakin dan percaya, lahan di Indonesia mampu ditanam berbagai komoditi pangan. “Potensi lahan di Indonesia menanamkan segala komoditi masih memungkinkan. Sehingga mereka tertarik,” tuturnya. (Merdeka.com)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar