Penuduh Malapraktik Gugat Klinik Rp100 Miliyar

Rabu, 20 Desember 2017

Lampung Centre – Kasus dugaan mal praktik Klinik Skin Rachel, kian memanas. Henry Indraguna, penasehat hukum (PH) korban Elly Subekti, setelah mendatangi Mapolda Lampung, hari ini (Rabu 20/12) berencana menyambangi Pengadilan Negri Tanjung Karang untuk menggugat oknum dr “R” sejumlah Rp100 Miliar dengan alasan kerugian imaterial yang diderita kliennya.

Usai mendatangi Dit Krimsus Polda Lampung, Henry Indraguna mengaku, jika saat ini status terlapor sudah naik menjadi PENYIDIKAN Apabila terbukti dikemudian hari maka status terlapor akan menjadi TERSANGKA

“Tadi kami ke Polda Lampung menanyakan progres, Alhamdulillah / Puji Tuhan proses laporannya sudah naik PENYIDIKAN, luar biasa kita sangat puas dengan kinerji kerja Polda Lampung dan saya juga menyampaikan kepada penyidik, agar memanggil saksi ahli yang objektif,” kata Henry, saat jumpa pers di d’Music Café, Selasa (19/12).

Oleh karena itu, pihaknya berharap, dengan adanya didaftafkan gugatan di pengadilan negri tanjung karang akan mendapatkan putusan seadil adilnya sehingga kedepannya akan menjadi suatu pelajaran dan tidak ada lagi praktik – praktek oknum Dokter yang merugikan pasien. “Yang jelas maksud dan tujuan adalah “efek yang jera” karena saya lihat banyak oknum oknum dokter-dokter ini banyak yang buka praktik klinik kecantikan,” yg tanpa ijin kompetensi yg jelas tegasnya.

Team pengacara Henry, Adi Simanjuntak menambahkan, kami juga meminta terlapor mendapat pasal yaitu Pasal 79 huruf c, Pasal 36, pasal 45 ayat 1,2,3 UU no 29 tahun 2004 tentang praktek kedokteran dan pasal 50 UU no.23 tahun 1992 tentang kesehatan.

“Mudah-mudahan bulan Januari 2018 penyidik bisa menentukan sikap terkait status dokter “R” apakah jadi tersangka dan dapat di lanjutkan ke proses persidangan.

Di lain sisi, pihaknya juga meminta untuk memeriksa terkait masa berlaku obat yang digunakan untuk memoles ditangan clientnya. Karena patut diduga obat tersebut susah kadaluarsa.

“Kami meminta kepada penyidik untuk memeriksa apakah obat yang digunakan sudah terdaftar di BPOM atau ijin terkait lainnya. Kami meminta juga penyidik untuk lebih fokus kepada kompetensi dokter tersebut,” jelasnya.

“Apakah oknum Dokter umum memiliki kompeten untuk melakukan atau memerintah perawatnya untuk melakukan perawatan seperti halnya yang dilakukan oleh dokter specialist kulit dan kecantikan. tandasnya. (rls/red)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar