Pesta Rakyat ‘Lampung Berjaya’. Pemprov Salah Pilih Penyelenggara, Atau EO PRL Tak Mau Bayar PAD?

Rabu, 14 Agustus 2019

Bandarlampung (Lampung Centre) – Gelaran Pekan Raya Lampung (PRL) 2019 ternyata kurang diminati masyarakat. Buktinya dilontarkan langsung Direktur Event Organizer (EO) Orizpro Intermedia, Richo Tambuse, selaku pihak penyelenggara. Namun, pubik justru beranggapan jika peryataan yang dilontarkan pelaksana tidak lebih dari alasan agar tidak berkontribusi dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Benar atau tidak. Baik pengakuan penyelenggara maupun asumsi publik, keduanya sama-sama memcoreng citra Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung terutama Gubernur Arinal Djunaidi dan Wakil Gubernur Chusnunia Chalim. Alasannya; Jika pernyataan yang dilontarkan penyelenggara benar, artinya gelaran PRL yang digagas Gubernur Arinal benar kurang diminati masyarakat dan hanya sebatas pemborosan anggaran.

Demikian pula. Jika asumsi publik yang menyebut alasan penyelenggara tersebut hanya untuk agar terhindar dari PAD, artinya Pemprov Lampung telah salah memilih EO gelaran PRL. Atau mungkin memang ada permainan antara Pemprov Lampung dan penyelenggara PRL 2019.

Direktur Event Organizer (EO) Orizpro Intermedia, Richo Tambuse, mengaku jika perputaran uang pada acara yang mengusung tema ‘Pesta Rakyat untuk Lampung Berjaya’ yang berpusat di PKOR Way Halim mengalami penurunan sebesar 20 persen, jika dibandingkan dengan gelaran Lampung Fair 2018 lalu.

Namun, soal angka riil jumlah penurunan perputaran uang dalam kegiatan pesta rakyat pertama era Gubernur dan Wakil Gubernur, Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim itu, Richo Tambuse belum menyebutnya. “Kalau itu (angka riil), belum didata. Biasanya dapat diketahui pada akhir kegiatan,” kata dia seperti dikutip Kiprah.co, Senin (14/8).

Faktor yang menyebabkan adanya penurunan perputaran uang dalam perhelatan Pekan Raya Lampung, Richo berspekulasi karena perekonomian sedang lesu. Sehingga membuat kegiatan sepi, dan perputaran uang turun dari tahun 2018 lalu.

Menanggapi pengakuan pihak EO Pekan Raya Lampung, terkait perputaran uang yang diklaim cenderung nyungsep dari tahun sebelumnya, sumber internal di lingkungan Pemprov Lampung justru curiga, jangan-jangan sekedar akal-akalan guna menghindari setoran PAD (Pendapatan Asli Daerah) ke Pemprov Lampung.

“Ini kecurigaan, bukan menuduh pihak EO tidak mau jujur karena menghindari PAD, bukan. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa itu sesuai kenyataan? Sebab bisa jadi pada akhir kegiatan nanti, ada yang mengeluarkan pernyataan bahwa merugi, nombok banyak, padahal untung diam-diam. Lagu lama kaset baru, begitu,” tutur sumber itu, seraya meminta agar namanya tidak ditulis dalam pemberitaan media.

Diketahui, berdasarkan data yang terhimpun, pada tahun 2018 lalu perputaran uang dalam kegiatan pesta rakyat yang dikemas dengan nama Lampung Fair mencapai Rp17 miliar.

Jika merujuk pada perhelatan Lampung Fair 2015 lalu, PT. Panghegar dipercaya sebagai panitia penyelenggara dengan menyerahkan dana sebesar Rp300 juta sebagai uang jaminan. Dari event ini Pemprov Lampung bisa meraup keuntungan sebesar 15 persen dari total penghasilan masuk sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bagaimana dengan Pekan Raya Lampung 2019?. (*)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar