Politik Uang dan SGC Mengusik Ketentraman Lampung

Kamis, 05 Juli 2018

Bandarlampung (Lampung Centre) – Penolakan terhadap PT Sugar Grup Compenies (PT SGC) dan aksi politik uang yang diduga dilakukan pasangan calon Arinal Djunaidi – Chusnunia Chalim (Arinal-Nunik) terus mengalir. Bahkan, bukan hanya terjadi di Kota Bandar Lampung, hari ini (Selasa, 5/7), penolakan juga terjadi di Kabupaten Lampung Tengah dan Pringsewu.

Aksi damai ratusan masyarakat Lampung Tengah dimulai dari depan Masjid Istiqlal Bandarjaya. Salah satu tokoh yang mengutuk praktik politik uang diduga dibiayai PT SGC ialah Anggota DPRD Lampung Tengah dari Fraksi PDIP, Sumarsono.

Dalam orasinya, Sumarsono meminta pihak terkait untuk mengusut praktik politik uang yang terjadi selama kontestasi Pilgub Lampung. Termasuk membongkar keterlibatan PT SGC yang dinilai menciderai pesta demokrasi di Sai Bumi Ruwa Jurai.

“Apa yang sudah dilakukan oleh korporasi (PT SGC) yang sudah mencabik-cabik demokrasi ini harus dibongkar, harus dibongkar, dan dibongkar,” teriak Sumarsono.

Menurut Sumarsono, demokrasi saat ini sudah dikuasai oleh korporasi dan harus segera dibenahi.

“Kalau demokrasi ini dikuasai orang kaya, maka hanya orang-orang kaya lah yang akan menjadi pemimpin,” katanya.

Sementara koordinator aksi Saubari mengatakan, aksi damai ini murni pergerakan masyarakat yang ingin temuan money politics di Pilgub Lampung segera diusut tuntas.

Pihaknya juga menuntut Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Lampung untuk segera membatalkan segala bentuk tahapan pilgub yang sudah dilalui.

“Kami juga minta anulir atau diskualifikasi paslon nomor 3 (Arinal-Nunik),” tegasnya.

Selain itu, Saubari juga menuntut pihak terkait untuk memenjarakan bos SGC Purwanti Lee alias Nyonya Lee. Dan meminta perusahaan itu hengkang dari bumi Lampung.

“Sudah jelas sekali SGC yang mendanai paslon nomor 3, maka kami minta tangkap Purwati Lee dan penjarakan dia,” pungkasnya. (*)

Selain di Kabupaten Lampung Tengah,  Ratusan Masyarakat Pringsewu juga menggelar aksi di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sekitar pukul 10.00 WIB, Kamis (5/7).

Para massa juga mendesak agar Panwaslu setempat mengusut tuntas dugaan politik uang dari pasangan calon nomor urut tiga Arinal Djunaidi – Chusnunia Chalim di pilgub 27 Juni 2018.

Ratusan massa aksi yang peduli gerakan moral dari perwakilan masyarakat di sembilan kecamatan kabupaten Pringsewu memberikan Petisi tolak money politik ke Panwaslu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Anggota DPRD. Mereka mendesak agar mendiskualisfikasi paslon nomor urut tiga dan mengulang kembali  pilgub 27 Juni 2018 lalu.

“Mereka harus bergerak sesuai dengan tupoksi masing-masing. Karena masyarakat Lampung sudah muak dengan persoalan money politik ini,” Kata Tim Juru Runding Perwakilan Masyarakat Pringsewu, Yudi Gondrong, Kamis (5/7).

Di lapangan, pihaknya menemukan adanya indikasi money politik secara terstruktur, sistematis dan massif (Tsm). Ia mendapat kabar bahwa ada oknum berpangkat lurah dan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang diindikasi membagikan sejumlah amplop untuk mengarahkan masyarakat agar memilih salah satu paslon gubernur – wakil gubernur Lampung periode 2019-2024.

“Persoalannya masalah sudah selesai, mereka baru cerita sehingga indikasi dugaan pelanggaran money politik ini mentah semua,” ujarnya.

Tatanan demokrasi di Lampung saat ini sangat buruk karena diindikasi adanya turut campur tangan koorporasi.

“Sistim Demokrasi Lampung saat ini sudah sangat buruk. Karena berada di bawah cengkraman naga betina itu,” sindirnya.

Dengan adanya money politik ini, ia menilai bahwa kesepakatan bangsa tentang demokrasi ini telah hancur pasca adanya campur tangan koorporasi di ajang pesta demokrasi lima tahunan tingkat provinsi tersebut.

“Masa Negara kalah sama mafia. Jadi sudah tidak ada kewibawaan lagi negara ini di mata masyarakat jika permasalahan ini tidak bisa diusut tuntas. Terus mau mengadukan kemana lagi permasalahan ini, kalau pada diam. Mau mengadu sama Allah nanti di akhirat akhirnya,”pungkasnya. (*)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar