Selain Isu Wanita, Ini Alasan Lainnya Krishna Murti Dicopot dari Wakapolda Lampung

Sabtu, 24 September 2016
Komisaris Besar Polisi Krishna Murti . Foto: Ist

Lampung Centre –  Keputusan Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian mencopot Komisaris Besar Krishna Murti dari jabatannya sebagai Wakil Kepala Kepolisian Daerah Lampung seolah menguatkan isu penganiayaan oleh perwira menengah tersebut terhadap seorang teman wanitanya bernama Novena Widjaya.

Krishna Murti dimutasi berdasarkan Telegram Rahasia Kepala Polri bernomor ST/2325/IX/2016, tanggal 23 September 2016. Mantan Direskrimum Polda Metro Jaya itu dimutasi menjadi Kabag Kembangtas Romisinter pada Divisi Hubungan Internasional Polri. Tito Karnavian mengatakan isu kekerasan terhadap seorang wanita sedang dilakukan penyelidikan. “Masih kami dalami, kan sudah ada dua orang yang diperiksa,” kata Tito di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Jumat (23/9).

Menurut Tito, sementara ini hasil pemeriksaan timnya menyatakan bahwa salah satu wanita mengaku hanya bertemu waktu difoto di pameran, sedangkan wanita satunya lagi sebagai teman saja.  Terkait dengan video yang diperoleh polisi yang menggambarkan Krishna Murti bercengkerama dengan seorang bayi, Tito mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan dan hasilnya menyatakan anak kecil itu bukan anaknya Krishna. “Pak Krishna pun menyatakan sementara seperti itu, tapi kita dalami,” ucapnya.

Dalam video yang tersebar di situs YouTube itu, Krishna menyebut dirinya papa, dan wanita yang merekam adegan Krishna sedang bercengkerama dengan bayi itu juga memanggil Krishna dengan sebutan ‘papa.’

Sementara itu, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar juga meluruskan pemberitaan yang menyebutkan Kombes Krishna Murti dicopot dari jabatannya sebagai Wakil Kapolda Lampung. Mutasi Krishna yang relatif singkat pada jabatannya bertepatan dengan dugaan tindak kekerasan yang kini ditangani Divisi Profesi dan Pengamanan Polri. “Tidak ada kaitan kasus. Itu kan mekanisme yang berjalan di Propam,” ujar Boy.

Boy menyebutkan dua alasan mengapa Krishna dimutasi sebagai Kepala Bagian Pengembangan Kapasitas (Kabagkembangtas) Biro Misi Internasional Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri. Pertama, perubahan tipologi Polda Lampung menjadi tipe A membutuhkan pucuk pimpinan yang diisi oleh bintang dua dan bintang satu. Sementara Krisna dianggap terlalu muda untuk diangkat menjadi Brigjen Pol. “Krishna Akpol tahun 1991, oleh tim Dewan Kebijakan dianggap masih junior,” kata Boy.

Alasan kedua, yakni kemampuan Krishna dibutuhkan untuk sidang umum Interpol di Bali pada November 2016. Boy mengatakan, Krishna memiliki kemampuan di bidang hubungan internasional sehingga dibutuhkan menjadi salah satu tim. Krishna diketahui memang berpengalaman di bidang tersebut. Pada 2011, ia menjadi staf perencanaan PBB di New York, Amerika Serikat. Kemudian, tahun 2012, ia ditunjuk sebagai penerjemah Utama Divisi Hubungan Internasional. “Polri akan jadi tuan rumah dari 190 negara nanti. Jadi butuh tenaga banyak karena masalah yang dibahas international crime,” kata Boy.

Mutasi Krishna bertepatan dengan mencuatnya dugaan tindak kekerasan yang dilakukan Krishna terhadap seorang perempuan. Kasus ini tengah ditangani oleh Divisi Propam Mabes Polri. Kabar itu bermula dari sejumlah pemberitaan yang menyebut mantan pejabat Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya menganiaya teman perempuannya. Tak hanya itu, beredar juga foto-foto perempuan yang diduga korban dari Krishna. Divisi Propam telah memintai keterangan AW, perempuan yang fotonya beredar dan dikaitkan dengan Krishna, serta perempuan berinisial NW yang diberitakan sebagai korban.

Sementara itu, Krishna membantah isu tersebut. Ia mengaku tidak tahu mengenai munculnya informasi yang menyebutnya menganiaya perempuan. “Saya tidak tahu bagaimana peristiwanya. Saya tidak tahu mengapa dikaitkan dengan isu yang beredar. Insya Allah saya tidak pernah melakukan sebagaimana yang diisukan tersebut. Mudah-mudahan jawaban saya bisa mengklarifikasi isu miring yang beredar di luar,” ujarnya.  (Dbs)

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar