Sengketa Lahan, Ribuan Warga Way Dadi Akan Gelar Aksi Damai

Selasa, 22 November 2016
Ilustrasi unjuk rasa. Gambar: Ist

Lampung Centre – Ribuan warga dari tiga kelurahan yakni Kelurahan Way Dadi, Way Dadi Baru, dan Korpri Jaya, Kecamatan Sukareme, Bandarlampung berencana menggelar aksi damai besar-besaran menuntut Pemerintah Provinsi Lampung meningkatkan status tanah Way Dadi seluas 300 hektar pada Kamis (24/11).

Wakil Ketua Pokmas Way Dadi, Triono Ariffin membenarkan bila akan ada aksi damai besar-besaran yang akan dilakukan ribuan warga. Bahkan surat pemberitahuan aksi damai sudah dilayangkan warga ke Polresta Bandarlampung pada Senin (21/11).

Warga menuntut pemprov menyelesaikan sengketa lahan Way Dadi dengan menyerap inforamsi secara utuh baik dari unsur pemerintah maupun dari masyarakat. “Warga siap menggelar aksi menuntut pemprov meningkatkan status tanah seluas 300 hektare. Jangan dilakukan diskriminasi. Kenapa yang laen selesai, sementara Way Dadi digantung-gantung,” kata Triono Ariffin, Selasa (22/11).

Rencananya, aksi damai akan dipusatkan dibeberapa titik diantaranya Tugu Raden Intan di Jalan Soekarno Hatta (By Pass), Tugu Adipura Jalan Raden Intan dan Jalan Ryachudu. Masa yang akan mengikuti aksi damai diperkirakan mencapai lima sampai sepuluh ribu.

Selama ini, sebanyak 25.000 warga dari 5.200 Kepala Keluaga (KK) di tiga kelurahan tersebut sudah menunggu langkah pemprov. Namun kenyataannya, sampai hari ini pemprov belum memberi kepastian prihal status lahan Way Dadi. “Selama ini masyarakat sudah menunggu, nemun pemprov belum juga memberikan kepastian. Jadi jangan salahkan kalau mereka (warga, red) unjuk gigi,” sambungnya.

Selama ini, lanjut Triono, dalam menyelesaikan sengketa lahan Way Dadi pemerintahan yang di pimpin M.Ridho Ficardo cenderung kurang mendengarkan masukan dari masyarakat. Padahal masyarakat juga mempunyai masukan yang bisa dijadikan pemerintah sebagai landasan untuk mengambil keputusan.

“Jangan sampai sengketa lahan Way Dadi antara masyarakat dan pemerintah terjadi seperti konflik agraria di daerah-daerah lain. Jika di kabupaten lain masyarakat saja berani mati, apalagi ini yang memang lokasi di tengah kota,” tegasnya. (Septa Herian Palga)

 

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar