Wartawan Serahkan Sepenuhnya Kasus Yuhadi Ke PWI dan BK

Selasa, 07 November 2017
Wartawan melaporkan sikap arogansi yang dilakukan Anggota Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung Yuhadi ke PWI Lampung. (foto:dok/ist).

Lampung Centre – Awak jurnalis yang sehari-hari meliput di Sekertariat DPRD Kota Bandar Lampung akhirnya melaporkan dugaan intimidasi serta sikap arogansi Ketua DPD II Golkar Kota Bandar Lampung, Yuhadi ke Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung dan Badan Kehormatan (BK) DPRD setempat.

Surat tersebut berisi pengaduan dan permohonan perlindungan hukum serta tuntutan agar Anggota Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung itu agar membuat permohonan maaf secara terbuka kepada awak media yang tersinggung dengan pernyataan Yuhadi ketika sidak megaproyek flyover MBK pekan lalu.

Ketua Badan Kehormatan DPRD Kota Bandar Lampung Agusman Arif yang menerima langsung surat pengaduan tersebut mengatakan dalam waktu dekat ini pihaknya akan mempertemukan kedua belah pihak agar persoalan tersebut tidak berlarut-larut. Namun sebelum memasuki tahap itu BK akan koordinasi terlebih dahulu dengan Ketua DPRD Kota Bandar Lampung.

“Kita akan mempertemukan antara terlapor dan pelapor melalui hearing, Kita akan membahas bagaimana kronologis serta akar persolannya,” kata Agusman, Senin (6/11).

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Pembelaan Wartawan Juniardi yang juga menyambut baik laporan dari awak media mengatakan dalam waktu dekat ini PWI Lampung akan meminta penjelasan terlebih dahulu kepada pihak terlapor.

Setelah itu, sambung Juniardi, pengaduan para wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis DPRD Bandar Lampung akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku. “Kami (PWI) terima pengaduan dari kawan-kawan pers. Usai laporan ini kami akan menindak lanjuti dan mengkaji terlebih dahulu,” ujarnya.

Sebelumya, Yuhadi juga sempat meminta maaf kepada awak wartawan yang sehari-hari meliput kegiatan Sekretariat DPRD Kota Bandar Lampung, pertemuan tersebut berlangsung di ruang fraksi Partai Grindra.

 

“Saya dari lubuk hati  paling dalam, minta maaf  kepada awak media, atas pernyataan  yang  membuat tersinggung wartawan. Saya tidak ada maksud mengajak berantem wartawan. Kemarahaan  saat itu bentuk ungkapan kekesalan atas  pemberitaan  yang tidak pernah saya katakan,” kata Yuhadi, saat menemui wartawan  di ruangan fraksi Partai Gerindra DPRD Bandar Lampung, Senin (6/ 11).

 

Yuhadi mengakui ia bisa besar sperti saat ini karena teman-teman media,  dan ia bisa jatuh karena media. ”Sehebat apapun saya tidak ada guna tanpa media. Saya hidup mencari  saudara, karena hidup ini sementara. Sekali lagi saya minta maaf, kalau pernyataan saya itu arogan,” jelas Yuhadi disaksikan anggota Komisi III Heriyadi Fayacoen.

 

Sebelumnya,  Rabu pekan lalu (1/11), Komisi III DPRD Bandar Lampung  mendatangi lokasi pembangunan proyek flyover Mal Boemi Kedaton, di Jalan Teuku Umar –Zainal Abidin Pagar Alam. Kehadiran anggota Komisi III,  guna menindaklanjuti  temuan keretakan konstruksi dinding beton flyover MBK.

 

Sayangnya saat sidak yang dihadiri Ketua  Komisi III Wahyu Lesmono Sekretrais  Achmad Riza,  anggota   Dedi Yuginta,  Wiwik Anggraini, Heriyadi Fayacoen dan pejabat dinas PU Kota   terjadi ketegangan.  Pasalnya  Yuhadi salah satu anggota komisi III  berang  kepada awak wartawan.

 

Kemarahan Yuhadi  disebabkan  pernyataan yang dimuat di beberapa media cetak dan online, pada terbitan Selasa (31/10), terkait kata-kata “besi banci” (besi non SNI) pada pembangunan  proyek flyover MBK.

 

Yuhadi  mengaku  tidak pernah melontarkan pernyataan  penggunaan besi banci  pada proyek  flyover MBK, dalam hearing antara Komisi III dan dinas PU Kota di DPRD pada Senin (30/10).

 

“Mahal  jengkol gua ini. Satu miliar lebih gua keluar duit,  jadi dewan ini. Berantem  juga gua ini mau. Gua  juga preman,” ujar Yuhadi  sambil menyebut  Ron (Azroni ) wartawan Rakyat Lampung yang hadir di lokasi sidak.

 

Yuhadi meminta  sebelum memberitakan,  wartawan  memahami  konteks dan pengetahuan mengenai konstruksi, sehingga apa yang ditulis, dan diangkat di pemberitaan  tidak membuatnya malu.

“Namanya besi  ukuran 13 ke atas gak ada  besi  banci (non SNI) ,  kalau   ukuran 13 ke bawah itu ada. Gini-gini gua mantan kontraktor, malu gua sebagai anggota dewan,  kalau  komentar besi banci. Mana ada flyover  pakai besi banci,”  kata dia. (dbs/red)

 

Bagikan...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest


Komentar